Walupun diperkirakan sebanyak 20 persen orangtua yang memiliki anak autis harus mengikuti pola makan khusus untuk anak yang mengalami hal seperti itu, tidak ada bukti ditemukan untuk mendukung adanya manfaat dalam pelaksanaannya. Nyatanya, beberapa kasus menunjukkan bahwa pola makan seperti ini berbahaya dan dapat menyebabkan kekurangan nutrisi. Penemuan ini diperoleh dari laporan yang dipublikasikan pada terbitan Pediatrics pada bulan Januari.
Banyak pendukung autis yang telah lama mendapati bahwa anak autis lebih banyak mengalami masalah pencernaan dibandingkan anak normal lain. Sebagai tambahan, selebriti yang mendukung pola makan autis, seperti Jenny McCarthy, telah menganjurkan untuk melakukan pola makan autis ini sebagai pengobatan utama untuk para autis. Pola makan ini biasanya mengurangi beberapa protein seperti casein yang terkandung dalam susu, atau gluten yang dihasilkan dari dalam tepung.
Untuk menyelidiki masalah ini, Dr. Timothy Buie dari sekolah Medis Harvard memimpin sebuah panel yang beranggotakan 28 ahli autism untuk meninjau ulang data penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan masalah pola makan yang berada dalam lingkup anak yang menderita autis. Para panelis tidak menemukan adanya bukti bahwa anak autis menderita masalah pencernaan parah dibandingkan dengan anak lainnya, tetapi tidak ada bukti juga yang mendukung gagasan bahwa mengikuti pola makan autis akan bermanfaat bagi anak penderita autisme.
Hasil dari peninjauan ulang ini mengindikasikan bahwa perkembangan anak normal memiliki gejala masalah pencernaan seperti "kebocoran pada usus", kondisi yang disebut dan dihubungkan dengan orang yang menderita autism saja. Sebagai tambahan para panelis menyimpulkan bahwa pemakaian pola makan khusus seperti ini tidak akan membantu. Grup panelis ini berkumpul di Boston pada tahun 2008 untuk menulis sebuah laporan konsensus. Peninjauan ulang ini telah didanai oleh Perhimpunan Autisme (Autism Society) dan kelompok pendukung lain.
Berdasarkan panelis yang meninjau ulang masalah ini, walaupun beberapa anak mendapat manfaat dari beberapa pola makan tersebut, karena resikonya dihubungkan dengan pola makan yang dibatasi, beberapa penelitian diperlukan untuk mengukur tanda bahwa lebih baik meneliti anak yang mendapatkan manfaat melalui pola makan tersebut. Sebagai tambahan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuat pengukuran terhadap masalah pencernaan yang sering terjadi diantara anak pengidap autism, sebagai tinjauan ulang pada penemuan penelitian sebelumnya yang menyatakan perkiraan tingkat rentang dari mulai 9 persen hingga mencapai 70 persen.
Para panelis penelitian ini menganjurkan kepada penyedia perawatan kesehatan untuk menerima laporan orangtua mengenai gejala masalah pencernaan ini secara serius, walaupun anak mereka yang autis tidak menunjukkan tanda-tanda gejala tersebut. Karena kebanyakan penderita autis cenderung kurang memperlihatkan ungkapannya secara verbal, indikasi adanya masalah kesehatan mungkin dapat ditunjukkan melalui perilaku mereka. Berdasarkan pendapat Dr. Buie, "ada banyak sekali halangan dalam penanganan terhadap anak penderita autis. Mereka akan sangat bersifat merusak dan tak terkendali di ruang periksa, atau mereka hanya duduk diam. Kondisi alami mereka ini sering mencegah mereka dari penanganan medis yang standar."
Penelitian terakhir mengindikasikan bahwa satu dari 100 anak di Amerika Serikat mengidap penyakit autis. Para panelis kesehatan ini menuntut orangtua dari anak-anak ini untuk mendapat penanganan medis daripada hanya menempatkan anak mereka pada pola makan yang sudah menunjukkan tidak efektik dan bahkan mungkin membahayakan kesehatan mereka.